Catatan Kematian Mantan Pengusaha Besar Rokok Indonesia (Budi Sampoerna)

Posted: 11 Agustus 2011 in Infokes

Saya memiliki satu catatan tentang orang ini dan tentang masalah kesehatan masyarakat kita yg relevan.

Di saat Budi Sampoerna masih menjadi orang nomor satu di perusahaan rokok raksasa Sampoerna, menanggapi desakan aktifis dan pembela pengendalian tembakau agar Pemerintah mengendalikan tembakau untuk melindungi kesehatan masyarakat, melalui harian Kompas Budi Sampoerna pernah berujar. “Saya merokok, tapi mana saya sakit? Saya sehat sehat saja”.

Memang penyakit penyakit kronik akibat merokok tidak akan muncul satu detik atau satu menit setelah seseorang, bahkan mungkin juga tidak satu bulan atau satu tahun setelah orang mulai merokok. Penyakit penyakit jantung atau kanker paru-paru, umumnya baru muncul 30 tahun setelah seseorang merokok.

Kini Budi Sampoerna sudah mati akibat kanker rongga mulut, sesuatu yang saat dia masih sehat dikatakan sebagai tak kan mungkin mengenainya. Menurut hemat saya, dia kini bukan hanya mati karena kanker mulut, lebih dari itu, dia mati karena kesombongannya.

Seharusnya kementerian kesehatan mem-blow up berita kematian Budi Sampurna akibat kanker mulut untuk mendidik masyarakat tentang bahaya merokok.

Saya masih ingat, ketika ibu Menkes – dr Endang Sedyaningsih terkena CA Paru, Fahmi Idris – salah seorang mantan menteri yang memiliki konflik kepentingan dengan industri tembakau pernah menghina aktifis, pembela dan gerakan pengendalian tembakau dengan meminta para petani tembakau di pulau Jawa untuk mengumpulkan uang koin 500 rupiahan guna menyumbang biaya pengobatan ibu Menkes sambil mengeluarkan kata kata kurang lebih demikian: “Lihat tuh, orang yang tidak merokok yang sakit kanker paru-paru, bukan orang yang merokok!” Dan opini publik yang menyesatkan itu di-blow up pers.

Kini, suatu kasus yang merepresentasikan fakta yang sesungguhnya, bahwa pemakai tembakaulah yang lebih besar memiliki kemungkinan menderita kanker, yang mengenai mantan konglomerat tembakau, sudah ada. Jika Kementerian Kesehatan tidak memblow up kasus ini, maka itu artinya kementerian kesehatan memang membiarkan masyarakat kita menderita asimetri informasi tentang tembakau atau kesehatan, namun bila berita ini diblow up secara efektif, maka itu artinya Kementerian kesehatan -seperti yang seharusnya- menginginkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang ‘well informed’ tentang risiko kesehatan akibat pemakaian tembakau.

Terima kasih

drg. R. Wasis Sumartono SpKG
Peneliti Kesehatan di Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat, Balitbangkes
Jl. Percetakan negara No. 23 A
Jakarta 10560

Sumber : Puskom Kemenkes RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s