2014, SELURUH ANAK INDONESIA DAPAT IMUNISASI DASAR LENGKAP

Posted: 23 Juli 2011 in Infokes

Pada tahun 2014, diharapkan seluruh anak Indonesia sudah menerima imunisasi dasar lengkap. Namun, ada sejumlah tantangan yang dihadapi untuk mewujudkannya yakni mulai dari kualitas data cakupan, logistik, manajemen vaksin termasuk rantai vaksin. serta sumber daya manusia yang belum optimal.

Demikian diungkapkan dr. Andi Muhadir MpH, Direktur Surveilans Imunisasi Karantina Kesehatan dan Kesehatan Matra , Jumat (22/7/2011) di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Ia menyatakan dalam Undang-undang perlindungan anak sudah jelas bahwa setiap anak berhak memperoleh layanan kesehatan, dan salah satu layanan kesehatan itu adalah imunisasi.

“Ini amanah dari Undang-undang yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk melaksanakan program imunisasi,” ucapnya.

Andi mengatakan, Kebijakan Nasional Imunisasi tahun 2010-2014 ditekankan pada tercapainya imunisasi dasar lengkap kepada 90 persen bayi usia 0 sampai 11 bulan untuk memberikan perlindungan optimal terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Sejauh ini, imunisasi yang sudah disediakan oleh pemerintah meliputi, hepatitis B, Polio, BCG, DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), Campak, dan Meningitis

“Sebanyak 80 persen bayi-bayi kita di tingkat desa sudah memperoleh imunisasi dasar lengkap. Ini juga terkait dengan prinsip keadilan. Bahwa mereka anak-anak kita yang berada didaerah terpencil pun harus diberikan vaksinasi, bukan hanya yang di kota besar,” katanya.

Sementara itu, dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSI, Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, pemberian imunisasi sangat penting dilakukan demi merangsang kekebalan spesifik bayi dan anak untuk mematikan kuman dan racun yang dihasilkan oleh kuman yang masuk ke dalam tubuh.

Adalah hal yang wajar apabila pasca imunisasi anak mengalami demam ringan sampai tinggi, bengkak dan kemerahan pada lokasi suntik. Pasalnya, hal tersebut akan hilang dalam 3-4 hari, meskipun kadang-kadang ada yang berlangsung lebih lama.

“Vaksin tidak melemahkan kekebalan tubuh, tetapi justru merangsang peningkatan kekebalan tubuh yang spesifik terhadap kuman atau racunnya,” ucapnya.

Bayi dan anak yang tidak mendapat imunisasi lengkap hanya mempunyai kekebalan yang rendah untuk melawan kuman dan racun, sehingga mudah terserang penyakit berbahaya.

Soedjatmiko menegaskan, imunisasi selain bermanfaat untuk diri sendiri juga bermanfaat untuk mencegah penyebaran penyakit ke orang-orang yang ada disekitar. Apabila ini dibiarkan, dapat menimbulkan wabah yang menyebar kemana-mana dan menyebabkan cacat atau kematian lebih banyak.

“Perlindungan imunisasi memang tidak 100 persen, artinya setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit. Tetapi kemungkinan hanya kecil sekitar 5-15 persen,” jelasnya.

Sumber : kompas.health

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s