oleh : Eri Endrasmoko, SKM

 

foging

Sejauh ini banyak masyarakat kita yang mendewa-dewakan fogging dalam rangka pengendalian DBD, padahal banyak efek samping dari pelaksanaan  fogging yang perlu kita ketahui karna mengganggu kesehatan, apa itu ? dibawah ini ada 6 dampak buruk akibat fogging yaitu ::

  1. Banyaknya polutan ( zat pencemar ) yang dapat mencemari makanan, air minum dan lingkungan rumah setelah pelaksanaan fogging, polutan tersebut tentunya dapat mengganggu kesehatan warga baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada saat akan dilakukan penyemprotan warga diimbau untuk menutup rapat-rapat makanan, air minum, air mandi, piring, gelas, sendok dsb.
  2. Banyaknya warga yang tidak mau keluar atau menjauh dari penyemprot bahkan anak-anak malah menonton dan mengikuti penyemprot yang dapat membahayakan pernafasan mereka.
  3. Kandungan malathion pada asap fogging dapat menyebabkan kelainan saluran cerna (gastrointestinal) dan bagi wanita hamil yang terpapar malathion resiko kelainan gastrointestinal pada anaknya 2,5 kali lebih besar.
  4. Paparan malathion juga mengakibatkan leukemia pada anak-anak. Aplastik anemia, gagal ginjal dan defek pada bayi baru lahir, juga berperan dalam kerusakan gen dan kromosom, kerusakan paru serta penurunan system kekebalan tubuh.
  5. Dalam sebuah Penelitian juga menyimpulkan malathion mempunyai peran terhadap 28 gangguan pada manusia, mulai dari gangguan sperma hingga kejadian hiperaktif pada anak.
  6. Selain itu pelaksanaan fogging salah satu penyebab terjadinya GLOBAL WARMING

 

Sebagai warga yang baik…akankah kita memasukkan racun di rumah sendiri?

Tanpa Fogging kita masih bisa mengendalikan DBD

 yaitu dengan PSN 3M PLUS

yang terbukti efektif, murah dan aman

Mari kita laksanakan PSN 3 M Plus

 mulai dari yang paling mudah dan gampang dahulu,

mulai dari kita sendiri dan  lingkungan kita sendiri

dan yang penting mulai dari Sekarang


Setiap tanggal 10 Desember, masyarakat dunia memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia. Sayangnya, masih banyak pelanggaran dan intimidasi yang dirasakan masyarakat Indonesia , salah satunya intimidasi HAM karena banyaknya jumlah perokok.

Setiap ada larangan merokok, para perokok selalu berdalih bahwa merokok adalah hak asasinya. Padahal merokok bukanlah hak asasi melainkan hanya kebutuhan belaka. Orang yang merokok di tempat umum bahkan merampas dan mengintimidasi hak asasi orang lain.

“Banyak orang yang mengklaim bahwa merokok adalah hak asasi manusia (HAM). Padahal sebenarnya itu bukan hak asasi, karena kalau hak asasi orang tidak bisa hidup tanpa itu. Nyatanya kan orang tidak akan mati kalau tidak merokok. Kalaupun itu hak dia buat merokok, tapi dia mengganggu hak orang lain mendapatkan udara segar untuk bernapas,” jelas Dr Adnan Buyung Nasution, SH, Bapak Advokat Indonesia dalam acara temu media di Yayasan Kanker Indonesia, Jakarta, Rabu (14/12/2011).

Hak asasi manusia (HAM) adalah sesuatu yang bisa mengancam jiwa jika tidak dipenuhi. Berbeda dengan merokok, jika tidak dipenuhi tidak akan mengancam jiwa. Jadi merokok bukanlah hak asasi, melainkan hanya sebuah kebutuhan belaka.

Sedangkan udara bersih adalah hak asasi setiap manusia, apabila manusia tidak mendapat udara bersih maka manusia akan mati. Dan udara yang bercampur asap rokok adalah udara yang mematikan.

“Ada argumen bahwa merokok adalah hak individu. Namun sikap ini belum menjawab pertanyaan tentang dampak merokok terhadap orang lain yang tidak merokok. Pelaksaan hak asasi manusia tidak boleh melanggar hak asasi orang lain, dalam hal ini hak atas kesehatan dari anggota masyarakat lain,” jelas Todung Mulya Lubis, ahli hukum sekaligus aktivis HAM.

Todung menjelaskan bahwa di UUD 45 Pasal 28H (amandemen 2) disebutkan bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

“Kalau paradigma ini dipenuhi, maka seharusnya merokok sudah tidak mendapatkan tempat di masyarakat. Karena setiap orang berhak dengan lingkungan hidup yang sehat,” jelas Todung.

Kesehatan merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus diwujudkan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu jika seseorang ingin merokok sebaiknya tidak mencelakakan orang lain.

“Selain itu menghirup lingkungan yang sehat dan bersih adalah salah satu hak asasi yang ada di dalam UUD’45. Karena asap rokok bisa mengganggu kesehatan dan kemanusiaan, jadi orang yang merokok tanpa menghormati tata cara merokok yang benar berarti ia orang yang tidak beradab. Kalau ingin merokok ada adapnya, jangan mencelakakan orang lain,” jelas dr Hakim Sorimuda Pohan, SpOG.

Sumber : detikhealth

SEPUTAR HEPATITIS A

Posted: 10 November 2011 in Infokes

Hepatis A (HAV)

Penyebab :
Virus Hepatitis A

Cara penularannya :
fecal oral, virus ditemukan pada tinja dan mencapai puncak 1 – 2 minggu sebelum timbulnya gejala dan berkurang secara cepat setelah timbulnya gejala disfungsi hati, timbul bersamaan setelah muncul sirkulasi antibody HAV dalam darah.

Masa inkubasi :
15 – 50 hari, rata – rata 28 – 30 hari

Masa Penularan :
Infeksi maksimun terjadi pada hari terakhir dari separuh masa inkubasi dan berlanjut setelah timbulnya ikterus (puncak aktifitas aminotransferase pada kasus an ikterik. Sebagian besar kasus kemungkinan tidak menular pada minggu pertama setelah ikterus. Ekskresi Virus melalui tinja paling lama terlaporkan adalah 6 bulan terjadi pada bayi dan anak. Ekskresi kronis pada HAV tidak pernah terlaporkan.

Pencegahan :
Dengan Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS) dan Imunisasi. Karena Hepatitis A Penularannya secara fecal – oral, dan sangat tergantung dengan rendahnya sanitasi dan personal hygiene maka dianjurkan kepada masyarakat untuk peningkatan kebersihan, penggunaan jamban yang benar, menerapkan PHBS mis. : cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan sesudah dari toilet.

Tindakan yang telah diambil oleh Petugas Kesehatan sehubungan kasus2 yang terakhir ini :
– Pengobatan dan perawatan terhadap penderita.
-PenyelidikanEpidemiologi oleh tim terpadu
– Penyuluhan kesehatan bagi warga sekitar, pemiolik warung / kantin dll
– Kordinasi dgn pihak terkait
– Pemeriksaan ke warung / kantin disekitar lokasi

Rencana selanjutnya :
– Pemantauan ketat terhadap penderita
– Pencarian kasus baru
– Konfirmasi laboratorium

Prof dr Tjandra Yoga Aditama
SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL)
Kementerian Kesehatan RI

CEGAH PEROKOK PASIF

Posted: 23 September 2011 in Infokes

Racun rokok tidak hanya berpotensi dihirup oleh mereka yang berada dalam satu tempat dengan perokok. Mereka yang menempati ruangan bekas dipakai merokok juga berpotensi menghirup racun yang menempel pada barang-barang di ruangan itu.

”Racun rokok yang bersifat karsinogenik (memicu kanker) dapat tertinggal di kursi, lemari, atau dinding di ruangan tempat merokok. Orang yang menghirup itu disebut thirdhand smoker,” kata Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Adang Bachtiar, Kamis (22/9), di Jakarta.

Data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemkes) pada tahun 2007 menunjukkan, 97 juta warga dewasa yang tak merokok dan 43 juta anak-anak Indonesia terpapar asap rokok orang lain (secondhand smoker).

Larangan merokok di tempat publik yang diatur Pemerintah Indonesia masih sebatas di fasilitas kesehatan dan pendidikan. Kondisi ini jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lain yang sudah melarang merokok di angkutan umum, restoran-bar, tempat kerja, dan ruang tertutup lain.

Pengaturan kawasan tanpa rokok masuk dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengendalian Tembakau, bersama aturan peringatan bergambar pada rokok serta pengendalian iklan, promosi, dan sponsor rokok. Namun, RPP yang seharusnya selesai tahun 2010 itu belum tuntas akibat besarnya kepentingan kementerian lain.

Kepala Subdirektorat Pengendalian Penyakit Kronis Degeneratif, Kemkes, Sonny P Warouw pernah menyatakan, rokok merupakan faktor risiko berbagai penyakit tak menular yang kini menjadi pembunuh utama dunia, termasuk Indonesia, seperti gangguan jantung, kanker, dan stroke. Kematian akibat tembakau di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 12,7 persen seluruh kematian.

Pada tahun yang sama, tembakau menyebabkan pengeluaran yang tidak perlu sebesar Rp 231,27 triliun. Rinciannya, Rp 138 triliun untuk membeli rokok, Rp 2,11 triliun untuk perawatan medis, dan Rp 91,16 triliun akibat hilangnya produktivitas.

”Pengeluaran tak perlu ini jauh lebih besar dibanding pendapatan negara dari cukai tembakau Rp 55 triliun,” katanya.

Untuk itu pemerintah perlu tegas untuk segera melindungi seluruh rakyat. Bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk ekonomi rakyat.

Tahun 2009, 68 persen rumah tangga Indonesia dan 57 persen rumah tangga termiskin mengeluarkan uang untuk rokok. Rokok menjadi pengeluaran pokok kedua setelah padi-padian.

Tindakan segera juga diperlukan mengingat semakin melonjaknya jumlah perokok pada semua kelompok usia dan jenis kelamin.

Sumber : kompas.com

KATAKAN TIDAK PADA ROKOK

Posted: 8 September 2011 in Infokes

Pengaruh buruk dari kebiasaan merokok terhadap kesehatan sudah tidak diragukan. Kebiasaan ini merupakan penyebab kematian utama yang sebenarnya dapat dicegah. WHO pun telah menetapkan tanggal 31 Mei sebagai World No Tobacco Day, hari tanpa asap rokok sedunia. Mari katakan ‘Tidak!’ pada Rokok, mulai saat ini!

Angka statistik di Amerika menunjukkan sekitar 430 ribu orang yang meninggal akibat penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok (smoking related disease). Selain itu, data tersebut menunjukkan lebih dari 50 juta orang,— 3 juta di antaranya adalah remaja–, yang terus melanjutkan kebiasaan merokok. Sementara itu, diperkirakan lebih dari 3 ribu remaja mulai belajar merokok setiap harinya, dan 1.000 di antaranya kemudian akan meninggal akibat merokok.

Berdasarkan data dari American Lung Association, 87 persen perokok akan mengidap kanker paru dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Selain nikotin, rokok mengandung lebih kurang 19 karsinogen, yaitu bahan kimia yang dapat menyebabkan kanker dan bahan-bahan kimia toxic lainnya.

Bagaimana rokok dapat merusak tubuh? 

Nikotin sendiri tidak bersifat karsinogen. Zat ini akan menyebabkan kematian bila masuk ke tubuh dalam dosis yang sangat besar. Perokok lama, kebiasaan ini memiliki risiko timbulnya penyakit lebih tinggi.

Hampir semua jenis kanker dapat disebabkan oleh kebiasaan merokok, misalnya kanker paru, mulut, hidung, pita suara, bibir, lidah, tenggorokan, kerongkongan, pankreas, sumsung tulang, ginjal, serviks, hati, kandung kemih dan lambung.

Jantung, paru dan pembuluh darah adalah organ yang mengalami kerusakan terberat akibat kebiasaan merokok. Penyakit paru seperti PPOK (Penyakit Paru Okstruktif Kronik COPD/Cronic Obstructive Pulmonary Disease) di antaranya asma dan kanker paru disebabkan terutama oleh kebiasaan merokok.

Asap rokok menimbulkan kerusakan permanen di saluran napas sehingga terjadi PPOK. Selain ancaman penyakit jantung seperti penyumbatan arteri koroner, serangan jantung dan stroke jauh lebih sering dijumpai pada perokok. Nikotin memberikan efek penyempitan pembuluh darah sehingga menyebabkan tekanan darah meningkat. Nikotin juga meningkatkan frekuensi denyut jantung sehingga jantung bekerja lebih keras.

Merokok tidak hanya memberikan efek buruk pada paru dan jantung, namun juga pada semua bagian tubuh yang dialiri pembuluh darah. Lapisan dalam pembuluh darah dapat rusak sehingga lemak akan melekat dengan mudah, akibatnya pembuluh darah menyempit dan menjadi kaku.

Hal ini menyebabkan sirkulasi di kaki dan tangan menjadi sangat berkurang sehingga timbul nyeri yang disebut nyeri neuropati dan gangguan untuk menangkal infeksi lokal atau setempat. Akibatnya dapat timbul ganggren (penyakit akibat pembusukan jaringan karena sumbatan aliran darah) yang memerlukan amputasi pada kaki dan tangan yang mengalami pembusukan.

Menghirup Asap Penuh Racun

Asap rokok yang dihirup mengandung zat-zat berbahaya misalnya tar, karbon monoksida, hidrogen sianida, logam berat dan radikal bebas. Masing-masing zat tersebut merusak tubuh dengan cara yang berbeda.

Tar merupakan suatu zat yang sangat lengket dan berwarna cokelat, mengandung bahan-bahan kimia yang telah dibuktikan bersifat karsinogen misalnya benzopiren.

Warna cokelat tar dapat mengubah warna gigi, kuku jari tangan, dan jaringan paru. Tar juga merusak rongga mulut, gigi dan gusi, serta dapat menimbulkan tukak pada sistem pencernaan, selain itu zat ini juga dapat memicu kanker tenggorokan dan kerongkongan.

Karbon monoksida merupakan komponen utama pada asap rokok yang memiliki kemampuan berikatan dengan hemoglobin yang jauh lebih kuat dibanding oksigen. Kondisi ini dapat menghambat oksigen untuk berikatan dengan hemoglobin.

Akibatnya jumlah oksigen yang dibawa oleh darah sedikit, sehingga jantung harus bekerja lebih keras memompa darah untuk mensuplai jumlah oksigen yang seharusnya diterima oleh sel-sel.

Hidrogen sianida mencegah paru membersihkan dirinya sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena silia pada saluran napas menjadi rusak. Padahal silia berfungsi mengeluarkan benda asing yang terhirup ke dalam paru. Akibatnya bahan-bahan kimia berbahaya dapat terkumpul dalam paru, menghalangi oksigenasi pada darah.

Bahan-bahan kimia lain yang terdapat dalam asap rokok yang dapat merusak paru antara lain hidrokarbon, nitrit oksida, asam organik, fenol dan bahan-bahan oksidasi. Radikal bebas merupakan bahan kimia sangat reaktif yang dapat menyebabkan kerusakan otot jantung dan pembuluh darah.

Radikal bebas ini bila bertemu dengan kolesterol akan membentuk plaque yang meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah, penyakit jantung, dan stroke. Asap rokok juga mengandung logam berbahaya seperti arsen, cadmium, dan timah, yang semuanya diketahui dapat menyebabkan kanker.

Kerusakan organ-organ lain akibat Merokok

Merokok menyebabkan peningkatan sekresi asam lambung serta tukak dan nyeri lambung. Iritasi dan radang lambung serta usus halus sering terjadi. Orang yang merokok memiliki kemungkinan tinggi terserang kanker pankreas. Banyak bahan karsinogen yang dikeluarkan melalui air seni (urine) sehingga menyebabkan kanker kandung kemih. Tekanan darah tinggi akibat merokok juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal.

Merokok menyebabkan efek buruk pada alat reproduksi terutama pada perempuan. Perempuan yang merokok akan sering mengalami haid yang tidak teratur atau kehilangan masa haidnya. Kesuburan akan terganggu dan masa monopause terjadi 1-2 tahun lebih awal.

Risiko kanker serviks akan meningkat. Perempuan perokok di atas usia 35 tahun yang mengonsumsi pil kontrasepsi akan meningkatkan risiko secara bermakna terhadap stroke dan serangan jantung.

Pada laki-laki, kebiasaan merokok akan menurunkan jumlah sperma. Sperma menjadi abnormal dan motilitasnya berkurang. Hal ini dapat pula mengurangi kadar hormon seksual. Penurunan sirkulasi pada penis meningkatkan kemungkinan laki-laki perokok menjadi impoten akibat dari kombinasi gangguan sirkulasi dan kerusakan pembuluh darah penis.

Sistem imun orang yang merokok juga terganggu, akibatnya para perokok ini rentan terhadap infeksi yang ringan sekalipun. Seorang perokok memerlukan waktu yang lebih lama untuk pulih dari penyakit infeksi dibandingkan dengan bukan perokok. Selain itu, para perokok memiliki densitas atau kepadatan tulang yang rendah, dan mudah mengalami osteoporosis.

Hal lain pula yang umum muncul pada perokok adalah kulit menjadi kering dan kehilangan elastisitasnya, sehingga biasanya timbul keriput pada usia muda. Risiko yang lebih serius akan dialami oleh bayi yang lahir dari ibu perokok, seperti terjadinya berat badan lahir rendah, prematur, bibir sumbing, dan sangat rentan terhadap infeksi, bahkan sampai dengan terjadinya keguguran.

Penulis :
Dr. Christoph T. A. Zega, SpP
Tim dokter spesialis Paru di Eka Hospital BSD Tangerang.


Saya memiliki satu catatan tentang orang ini dan tentang masalah kesehatan masyarakat kita yg relevan.

Di saat Budi Sampoerna masih menjadi orang nomor satu di perusahaan rokok raksasa Sampoerna, menanggapi desakan aktifis dan pembela pengendalian tembakau agar Pemerintah mengendalikan tembakau untuk melindungi kesehatan masyarakat, melalui harian Kompas Budi Sampoerna pernah berujar. “Saya merokok, tapi mana saya sakit? Saya sehat sehat saja”.

Memang penyakit penyakit kronik akibat merokok tidak akan muncul satu detik atau satu menit setelah seseorang, bahkan mungkin juga tidak satu bulan atau satu tahun setelah orang mulai merokok. Penyakit penyakit jantung atau kanker paru-paru, umumnya baru muncul 30 tahun setelah seseorang merokok.

Kini Budi Sampoerna sudah mati akibat kanker rongga mulut, sesuatu yang saat dia masih sehat dikatakan sebagai tak kan mungkin mengenainya. Menurut hemat saya, dia kini bukan hanya mati karena kanker mulut, lebih dari itu, dia mati karena kesombongannya.

Seharusnya kementerian kesehatan mem-blow up berita kematian Budi Sampurna akibat kanker mulut untuk mendidik masyarakat tentang bahaya merokok.

Saya masih ingat, ketika ibu Menkes – dr Endang Sedyaningsih terkena CA Paru, Fahmi Idris – salah seorang mantan menteri yang memiliki konflik kepentingan dengan industri tembakau pernah menghina aktifis, pembela dan gerakan pengendalian tembakau dengan meminta para petani tembakau di pulau Jawa untuk mengumpulkan uang koin 500 rupiahan guna menyumbang biaya pengobatan ibu Menkes sambil mengeluarkan kata kata kurang lebih demikian: “Lihat tuh, orang yang tidak merokok yang sakit kanker paru-paru, bukan orang yang merokok!” Dan opini publik yang menyesatkan itu di-blow up pers.

Kini, suatu kasus yang merepresentasikan fakta yang sesungguhnya, bahwa pemakai tembakaulah yang lebih besar memiliki kemungkinan menderita kanker, yang mengenai mantan konglomerat tembakau, sudah ada. Jika Kementerian Kesehatan tidak memblow up kasus ini, maka itu artinya kementerian kesehatan memang membiarkan masyarakat kita menderita asimetri informasi tentang tembakau atau kesehatan, namun bila berita ini diblow up secara efektif, maka itu artinya Kementerian kesehatan -seperti yang seharusnya- menginginkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang ‘well informed’ tentang risiko kesehatan akibat pemakaian tembakau.

Terima kasih

drg. R. Wasis Sumartono SpKG
Peneliti Kesehatan di Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan
Pemberdayaan Masyarakat, Balitbangkes
Jl. Percetakan negara No. 23 A
Jakarta 10560

Sumber : Puskom Kemenkes RI


Pada tahun 2014, diharapkan seluruh anak Indonesia sudah menerima imunisasi dasar lengkap. Namun, ada sejumlah tantangan yang dihadapi untuk mewujudkannya yakni mulai dari kualitas data cakupan, logistik, manajemen vaksin termasuk rantai vaksin. serta sumber daya manusia yang belum optimal.

Demikian diungkapkan dr. Andi Muhadir MpH, Direktur Surveilans Imunisasi Karantina Kesehatan dan Kesehatan Matra , Jumat (22/7/2011) di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Ia menyatakan dalam Undang-undang perlindungan anak sudah jelas bahwa setiap anak berhak memperoleh layanan kesehatan, dan salah satu layanan kesehatan itu adalah imunisasi.

“Ini amanah dari Undang-undang yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk melaksanakan program imunisasi,” ucapnya.

Andi mengatakan, Kebijakan Nasional Imunisasi tahun 2010-2014 ditekankan pada tercapainya imunisasi dasar lengkap kepada 90 persen bayi usia 0 sampai 11 bulan untuk memberikan perlindungan optimal terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Sejauh ini, imunisasi yang sudah disediakan oleh pemerintah meliputi, hepatitis B, Polio, BCG, DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), Campak, dan Meningitis

“Sebanyak 80 persen bayi-bayi kita di tingkat desa sudah memperoleh imunisasi dasar lengkap. Ini juga terkait dengan prinsip keadilan. Bahwa mereka anak-anak kita yang berada didaerah terpencil pun harus diberikan vaksinasi, bukan hanya yang di kota besar,” katanya.

Sementara itu, dr. Soedjatmiko, SpA (K), MSI, Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, pemberian imunisasi sangat penting dilakukan demi merangsang kekebalan spesifik bayi dan anak untuk mematikan kuman dan racun yang dihasilkan oleh kuman yang masuk ke dalam tubuh.

Adalah hal yang wajar apabila pasca imunisasi anak mengalami demam ringan sampai tinggi, bengkak dan kemerahan pada lokasi suntik. Pasalnya, hal tersebut akan hilang dalam 3-4 hari, meskipun kadang-kadang ada yang berlangsung lebih lama.

“Vaksin tidak melemahkan kekebalan tubuh, tetapi justru merangsang peningkatan kekebalan tubuh yang spesifik terhadap kuman atau racunnya,” ucapnya.

Bayi dan anak yang tidak mendapat imunisasi lengkap hanya mempunyai kekebalan yang rendah untuk melawan kuman dan racun, sehingga mudah terserang penyakit berbahaya.

Soedjatmiko menegaskan, imunisasi selain bermanfaat untuk diri sendiri juga bermanfaat untuk mencegah penyebaran penyakit ke orang-orang yang ada disekitar. Apabila ini dibiarkan, dapat menimbulkan wabah yang menyebar kemana-mana dan menyebabkan cacat atau kematian lebih banyak.

“Perlindungan imunisasi memang tidak 100 persen, artinya setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit. Tetapi kemungkinan hanya kecil sekitar 5-15 persen,” jelasnya.

Sumber : kompas.health